Teruntuk kalian yang Allah takdirkan masih membersamai kedua orangtuanya dan Allah takdirkan pemahaman agama orang tua siapun dari kita masih kurang/awam. Semoga tulisan ini bisa menjadi wasilah untuk kita semua agar sama-sama mengajak dan membersamai mereka.
Hal yang pertama yang kita sebagai anak bisa lakukan adalah bermuhasabah terhadap diri kita sendiri. Renungkan sudah sesering apa kita mendoakan ayah dan ibu kita. Jangan-jangan kita sibuk menyalahkan ayah dan ibu kita. Tapi kita sendiri lupa untuk menyebut nama mereka dalam waktu-waktu terbaik kita.Yang kedua adalah muhasabah terkait berbagi ilmu. Jangan hanya kita sendiri yang sering hadir di taklim dan kajian-kajian agama. Namun ayah dan ibu kita bahkan tidak mengenal kajian dan asing ditelinganya. Jika dibandingkan zaman sekarang yang mana kajian-kajian agama sudah sangat gampang ditemui, bisa jadi dulu zaman ibu kita masih mengandung kita kajian agama adalah hal yang sulit didapat. Terlebih jika niatan saat itu orangtua kita sudah ingin belajar agama namun ditunda hanya karena fokus mengurusi kita saat kecil. Tentu tidak ada salahnya jika hari ini kita bergantian sedikit meluangkan waktu untuk mengajak dan berbagi terkait ilmu yang kita telah peroleh. ( karena kadang kita selalu mengutuk kegelapan namun kita tak pernah mau membawa lentera lilin) karena harusnya ilmu adalah hal yang pertama kita bagi kepada ayah dan ibu kita sebelum harta. Karena ilmu lah terlebih ilmu agama yang akan menyatukan kelak kita disurga bersama mereka.
Dalam penyampainya pun perlu kita perhatikan faktor-faktor dan cara-cara bagaimana menyampaikan pesan dan ilmu kepada ayah dan ibu kita agar bisa diterima, dan percayalah bahwa proses ini memerlukan waktu dan tidak instan.
Contoh kisah :
Ada seorang laki-laki yang sudah mengkhitbah seorang perempuan dan ingin melangsungkan pernikahan yang syar’i. Namun kendala orangtua yang melarang dan tidak merestui proses pernikahan mereka, karena orangtua mereka fikir semuanya bertengtangan dengan kefahaman dan tradisi yang sudah diyakini sebelumnya.Saat si lelaki ini ditanya kapan memberitahu orangtua anda terkait niat proses pernikahan yang ingin dilakukan secara syar’i .laki-laki itu menjawab 1 bulan yang lalu.
Padahal anak lelaki ini sudah mendalami agama beratahun-tahun lamanya.
Wajar jika orangtua mereka tidak memahaminya, karena mau tidak mau mereka juga butuh waktu untuk memahami ilmu yang kita sampaikan, atau dalam kisah ini konsep pernikahan yang di inginkan.
Jikalau makanan yang kita makan saja perlu waktu 6 jam untuk dicerna dan diurai dalam pencernaan kita. Maka sudah sepatutnya kita terapkan dalam merubah sesuatu yang salah dalam hal apapun apalagi kepada ayah dan ibu kita, perlu waktu dan tidak instan terlebih menata kehidupan oranglain.
Masih ingatkah dulu kita juga sering membatah saat diperingati ?
Saya masih ingat ketika SD saja kita kadang bandel ketika diberitahu hal oleh guru padahal itu hal yang baik. Atau saat kita dulu belum hijrah pasti pernah sinis dan merasa menolak saat ada nasehat kepada diri kita.
Karena sekali lagi hidayah itu tidak ada yang tahu datangnya kapan dan dari siapa. Kita ga pernah tahu kapan pintu hati seseorang bisa terbuka. Dan ketika Allah sudah menakdirkan hidayah dan membuka pintu hati itu, maka jadilah kita orang yang berusaha untuk menjadi kunci hidayah itu.Hati itu miliknya allah, kita hanya ikhitiar , tapi berharaplah ke Allah.
Ayo manfaatin waktu bersama orangtua kita yang mungkin ada diantara kalian yang orangtuanya sudah usia senja. kita ga ada yang tahu juga berapa lama lagi umur ayah dan ibu kita, nabi Muhammad saw aja 63 tahun. kalo pun ada orangtua kita yang usianya sudah lebih dari itu , mungkin itu mah bonus aja dari Allah. Dan mari kita akhiri tulisan ini dengan azzaam yang kuat untuk tidak lupa menyebut ayah dan ibu dalam doa-doa terbaik kita, dan semoga doa itu terdengar dan di Aaminkan oleh para Malaikat.
“ ya Allah bukakanlah pintu hidayah untuk ayah,ibu, kakak, adik dan saudara hamba. Dan jadikanlah masing-masing dari kita sebagai kunci pembuka pintu hidayah itu “
Aamin